Ø Mitos 1
Berkacamata = Sakit
Trachoma
Pada
jaman colonial Belanda, penyakit mata Trachoma melanda sebagai wabah. Agar
tidak menular salah satu yang disarankan adalah memakai kacamata. Karena
kejadian itulah, kita sebagai generasi berikutnya sesudah era bapak dan kakek
kita yang mengalami wabah trachoma itu masih sering mendengar persepsi memakai
kacamata sama dengan sedang sakit trachoma, padahal beda banget. Mata minus
atau plus adalah kelainan mata sedangkan trachoma adalah penyakit mata. Mata
minus diperbaiki dengan alat bantu kacamata, trachoma disembuhkan dengan obat.
Ø Mitos 2
Kecil Kecil Kok Sudah
Berkacamata ; Nanti Saja Kalau Sudah Besar
Masa anak – anak adalah masanya
mendapar persepsi gambar yang baik dan sempurna dari setiap benda yang
dilihatnya agar baik pula kesan dan rekaman di dalam pikiran, imaginasi dan
intuisinya tentang benda-benda tersebut. Jika sejak kecil, segala hal dilihatnya
dengan buram dan tidak jelas maka gambaran dalam pikiran, imaginasi dan
intuisinya pun tidak tepat. Lebih lagi ketika anak memasuki massa sekolah,
dimana diperlukan penglihatan yang jelas untuk menyalin tugas di papan tulis
atau melihat peragaan guru di depan kelas. Ketika penglihatannya tidak jelas,
maka proses menerima pelajarannya pun menurun dan bisa berakibat prestasi yang
menurun dan bisa berakibat prestasi yang menurun pula. Jadi segerakan
perikasakan kondisi penglihatan anak ketika ditemui tanda-tanda ada kekurangan
pada penglihatannya. Tidak usah menunggu anak besar, karena justru sejak kecil
anak berhak mendapat mendapat kesempatan melihat dengan jelas, agar rekamannya
atas benda-benda juga benar.
Ø Mitos 3
Kacamata Dipakai Terus
Kok Minusnya Nambah ?
Kacamata bukan obat untuk
menyembuhkan kelainan penglihatan. Kacamata adalah alat bantu untuk mengatasi
kelainan mata, sebagaimana tongkat adalah alat bantu bagi si pincang dan bukan
mengembalikan kaki si pincang. Atau sebagaimana alat bantu dengar mengatasi
kekurangan pendengaran tapi tidak mengembalikan kemampuan dengar telinga.
Minus seseorang bertambah karena
beberapa factor antara lain sebab bentuk bola mata yang berkembang memanjang
(biasanya karena efek pertumbuhan masa anak-anak, penyakit ataupun kejadian
ekstrem yang mengubah struktur mata misalnya kecelakaan, ataupun kebiasaan yang
berhubungan dengan pola pemakaian penglihatan tertentu, dilakukan dalam waktu
yang lama. Pemakaian kacamata bukan penyebab bertambah atau berkurangnya ukuran
minus seseorang. Tetapi patut diperhatikan dalam pemakaian kacamata : ukuran
yang tepat, titik focus yang terpasang tepat sesuai dengan focus mata, setelan
yang pas dan lensa yang bersih.
Ø Mitos 4
Minus Turun Karena
Rajin Minum Jus Wortel
Mata minus terjadi karena bentuk
bola mata yang memanjang secara tidak seimbang melebihi normalnya. Minum jus
wortel tidak membawa perubahan perubahan apa-apa pada bentuk bola mata,
sehingga tidak membawa dampak pada bertambah atau berkurangnya minus. Minum jus
wortel memberikan kesehatan pada kondisi mata secara keseluruhan.
Ø Mitos 5
Kacamata Dipakai
Jarang-Jarang Saja Agar Minus Tidak Bertambah
Kacamata
adalah alat bantu penglihatan agar melihat segala sesuatu menjadi jelas dan
nyaman. Memaksakan pemakaian kacamata seminimal mungkin berarti mengorbankan
penglihatan jelas dan nyaman setiap saat. Bertambahnya minus adalah sebab
karena pertumbuhan bola mata, penyakit, kecelakaan, atau pola kebiasaan
tertentu bukan karena frekuensi pemakaian kacamata. Justru dengan tidak memakai
padahal mata membutuhkan, mata dipaksa bekerja ekstra, dimana menyebabkan
keluhan-keluhan sakit kepala, mata berair, mata lelah, hingga pusing.
Ø Mitos 6
Pakai Lensa Yang Murah
Saja, Toh Sebentar Lagi Ganti
Maksud
memakai kacamata adalah perbaikan penglihatan. Kualitas kacamata sebagai alat
bantu penglihatan, selain ditemukan bingkai yang sesuai dan nyaman, lebih
banyak ditentukan oleh kesesuaian ukuran lenda dan kualitas lensa. Memilih
lensa yang ‘apa adanya’ berarti mengorbankan hak anak untuk mendapat
penglihatan terbaiknya selama memakai lensa yang ‘apa adanya’ tersebut. Sebagai
orangtua sebaiknya mengubah pola piker menjadi ‘biarlah membayar lensa lebih
mahal, asal penglihatan sang anak mendapat yang terbaik, walau untuk waktu yang
singkat, karena masa kanak tidak terulang..
Ø Mitos 7
Ketika Membaca,
Kacamata Minus Dilepas Saja
Sewaktu membaca, maka melihat dekat
dan memerlukan akomodasi. Anak yang mengalami myopia dan menggunakan kacamata
minus, ketika membaca tanpa kacamata nilai akomodasinya jadi berlebih,
sedangkan ketika membaca dengan kacamata nilai akomodasinya adalah normal.
Jadi, anak berkacamata minus sebaiknya tetap menggunakan kacamata ketika
membaca atau menulis. [NK]
Sumber :
-
Mata Jakarta. Media Komunikasi Optik Jakarta MATA
JAKARTA.2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar