Clara
menutup novel Sherlock Holmes yang baru
selesai dibacanya. Huuft, seandainya
Sherlock Holmes itu ada di dunia nyata, pasti dia bisa membantuku menemukan si
pengirim surat misterius yang belakangan ini sering mengirimiku surat,
pikir Clara. Ya, memang sudah hampir 2 minggu ini Clara mendapat banyak sekali
surat misterius dengan ciri khas amplop merah dan pengirim yang berinisial
‘AL’. ‘AL’? Siapa dia ya?
Clara
menatap sebuah kardus sepatu di meja belajarnya, ia menyimpan semua surat
msterius itu di dalam kardus itu, selain karena suratnya terlalu banyak
sehingga ia kehabisan tempat untuk menyimpannya, juga agar surat itu tidak
tercecer dimana-mana. Hampir ada 53 surat di dalam kardus itu ditambah satu
surat yang sedang ia pegang saat ini, sehingga total 54 surat yang telah ia
terima selama 2 minggu belakangan ini.
Dari
semua surat itu, semua ditulis dalam selembar kertas HVS yang dimasukan ke
dalam amplop merah dan ditambahkan nama pengirimnya pada pojok kanan bawah
amplop bertuliskan ‘AL’. isi surat-surat itu pun bukan sesuatu yang romantis
atau menyeramkan seperti surat penggemar dan surat terror yang sering
diceritakan di novel-novel, tapi isinya semua seperti kata-kata mutiara,
kata-kata penyemangat, dan puisi-puisi romantis persahabatan. Itulah kenapa
Clara bingung siapa pengirimnya dan maksud dari surat-surat itu. Karena tak
perlu dipungkiri, semangatnya bertambah setiap ia membaca surat yang ia terima
itu.
Ia
ingin tahu siapa pengirimnya untuk berterima kasih dan berharap bisa berteman
dengannya karena ia merasa terbantu oleh surat-surat itu.
“Non,
makan malam sudah siap. Tuan dan Nyonya juga telah menunggu di meja makan Non”,
panggil Mbok Ampat, pembantu sekaligus pengasuh Clara dari sejak Clara masih
berumur 2 bulan.
“Iya
mbok, makasih yaa udah ngasih tahu” segera ia membereskan novel-novel
kesukaannya yang msih bertebaran di kasurnya dan menyimpan surat-surat
misterius itu di kardusnya dan menyimpan kardus itu ke dalam lemarinya. Ia
tidak ingin orang tuanya tahu mengenai surat-surat misterius itu, karena
mamahnya pasti akan menggodanya. Kalau
mamah tahu, dia pasti mengira surat ini dikirim oleh pacarku, padahal kan
jangankan pacar, semua teman cowok ku takut pada papah, pikirnya.
Tak
lama Clara telah bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan untuk makan
malam. Suasana makan malam dirumah itu memang selalu hening, karena kata mamah
pada saat makan etikanya memang tidak boleh ada yang bersuara sampai makan
malam selesai. Kaku memang, tapi karena itu etika yang diterapkan mamahnya
sejak ia kecil, Clara terima saja dan sudah sangat terbiasa dengan hal itu.
Sampai
akhirnya makan malam selesai, dan mbok Ampat membereskan piring dan gelas kotor
bekas makan malam, suasana meja makan masih hening. Aneh, biasanya mamah dan
papah selalu bertanya mengenai kegiatan aku hari ini, bagaimana di sekolah, dan
lainnya. Kok sekarang keduanya masih diem gitu, ada apa ya?” tanda tanya
besar menggelayuti pikiran Clara. Hingga ia memutuskan untuk bertanya pada
kedua orang tuanya mengenai kegiatan mereka seharian ini.
“Mah,
Pah, gimana kerjaan di kantor hari ini? Ada yang menarik?” tanya Clara sambil
memainkan minumannya.
“Begitulah
sayang, seperti biasa saja. Sayang, kalau kamu kami tinggal selama 1 tahun
keluar negeri, nggak apa-apa kan?” ujar mamahnya.
“Hah?? Satu
tahun? Lama banget mah, emang ada apa? Kok sampai selama itu?”.
“Ada proyek
besar di London Clara sayang, kamu ngerti ya? Disini kamu kan ditemani sama
mbok Ampat, terus ajak saja temanmu menginap disini biar kamu nggak kesepian,
gimana? Nanti saat libur semester kamu bisa ke London menengok mamah sama
papah. Oke?” tanya mamah.
London??? Tanah kelahiran Sherlock Holmes
yang aku suka? Tempat yang selama ini Cuma bisa aku bayangin aja? Berarti kalau
mamah papah ada proyek disana selama 1 tahun, dan aku bisa kesana setiap libur
semester, berarti dalam 1 tahun aku bisa kesana 2 kali dong? Akhirnyaaaaa !.
Tanpa disadari,
dirinya malah seyum-senyum sendiri membayangkan liburan ke London. Apa yang
akan dilakukannya di London nanti.
“Hush, kok
malah senyum-senyum gitu? Jadi nggak apa-apa kan kalau kami tinggal sayang?”
tegur mamah.
“Iya mah nggak
apa-apa kok, kapan mamah sama papah berangkat?”.
“Besok”, jawab
mamah singkat sambil beranjak dari meja makan menuju kamar bersama papah.
“Besok??
Kok ngedadak banget mah? Memangnya udah persiapan dan lainnya?”
“Tentu,
tinggal berangkat kok, baju dan perlengkapan semua nya akan duluan dikirim
malam ini. Sekarang kamu tidur, besok kamu nggak usah nganter ke bandara, kamu
besok ada seleksi cheers kan?” ujar mamah sambil masuk ke kamarnya.
Huh, mau pisah lama sama anaknya kok nyantai
gitu kaya yang Cuma mau pisah sehari, batin Clara.
To be Continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar