Senin, 13 Januari 2014

Rahasia Surat Misterius (part 1)



                Clara menutup novel  Sherlock Holmes yang baru selesai dibacanya. Huuft, seandainya Sherlock Holmes itu ada di dunia nyata, pasti dia bisa membantuku menemukan si pengirim surat misterius yang belakangan ini sering mengirimiku surat, pikir Clara. Ya, memang sudah hampir 2 minggu ini Clara mendapat banyak sekali surat misterius dengan ciri khas amplop merah dan pengirim yang berinisial ‘AL’. ‘AL’? Siapa dia ya?
                Clara menatap sebuah kardus sepatu di meja belajarnya, ia menyimpan semua surat msterius itu di dalam kardus itu, selain karena suratnya terlalu banyak sehingga ia kehabisan tempat untuk menyimpannya, juga agar surat itu tidak tercecer dimana-mana. Hampir ada 53 surat di dalam kardus itu ditambah satu surat yang sedang ia pegang saat ini, sehingga total 54 surat yang telah ia terima selama 2 minggu belakangan ini.
                Dari semua surat itu, semua ditulis dalam selembar kertas HVS yang dimasukan ke dalam amplop merah dan ditambahkan nama pengirimnya pada pojok kanan bawah amplop bertuliskan ‘AL’. isi surat-surat itu pun bukan sesuatu yang romantis atau menyeramkan seperti surat penggemar dan surat terror yang sering diceritakan di novel-novel, tapi isinya semua seperti kata-kata mutiara, kata-kata penyemangat, dan puisi-puisi romantis persahabatan. Itulah kenapa Clara bingung siapa pengirimnya dan maksud dari surat-surat itu. Karena tak perlu dipungkiri, semangatnya bertambah setiap ia membaca surat yang ia terima itu.
                Ia ingin tahu siapa pengirimnya untuk berterima kasih dan berharap bisa berteman dengannya karena ia merasa terbantu oleh surat-surat itu.
                “Non, makan malam sudah siap. Tuan dan Nyonya juga telah menunggu di meja makan Non”, panggil Mbok Ampat, pembantu sekaligus pengasuh Clara dari sejak Clara masih berumur 2 bulan.
                “Iya mbok, makasih yaa udah ngasih tahu” segera ia membereskan novel-novel kesukaannya yang msih bertebaran di kasurnya dan menyimpan surat-surat misterius itu di kardusnya dan menyimpan kardus itu ke dalam lemarinya. Ia tidak ingin orang tuanya tahu mengenai surat-surat misterius itu, karena mamahnya pasti akan menggodanya. Kalau mamah tahu, dia pasti mengira surat ini dikirim oleh pacarku, padahal kan jangankan pacar, semua teman cowok ku takut pada papah,  pikirnya.
                Tak lama Clara telah bergabung dengan kedua orang tuanya di meja makan untuk makan malam. Suasana makan malam dirumah itu memang selalu hening, karena kata mamah pada saat makan etikanya memang tidak boleh ada yang bersuara sampai makan malam selesai. Kaku memang, tapi karena itu etika yang diterapkan mamahnya sejak ia kecil, Clara terima saja dan sudah sangat terbiasa dengan hal itu.
                Sampai akhirnya makan malam selesai, dan mbok Ampat membereskan piring dan gelas kotor bekas makan malam, suasana meja makan masih hening. Aneh, biasanya mamah dan papah selalu bertanya mengenai kegiatan aku hari ini, bagaimana di sekolah, dan lainnya. Kok sekarang keduanya masih diem gitu, ada apa ya?” tanda tanya besar menggelayuti pikiran Clara. Hingga ia memutuskan untuk bertanya pada kedua orang tuanya mengenai kegiatan mereka seharian ini.
                “Mah, Pah, gimana kerjaan di kantor hari ini? Ada yang menarik?” tanya Clara sambil memainkan minumannya.
                “Begitulah sayang, seperti biasa saja. Sayang, kalau kamu kami tinggal selama 1 tahun keluar negeri, nggak apa-apa kan?” ujar mamahnya.
“Hah?? Satu tahun? Lama banget mah, emang ada apa? Kok sampai selama itu?”.
“Ada proyek besar di London Clara sayang, kamu ngerti ya? Disini kamu kan ditemani sama mbok Ampat, terus ajak saja temanmu menginap disini biar kamu nggak kesepian, gimana? Nanti saat libur semester kamu bisa ke London menengok mamah sama papah. Oke?” tanya mamah.
London??? Tanah kelahiran Sherlock Holmes yang aku suka? Tempat yang selama ini Cuma bisa aku bayangin aja? Berarti kalau mamah papah ada proyek disana selama 1 tahun, dan aku bisa kesana setiap libur semester, berarti dalam 1 tahun aku bisa kesana 2 kali dong? Akhirnyaaaaa !.
Tanpa disadari, dirinya malah seyum-senyum sendiri membayangkan liburan ke London. Apa yang akan dilakukannya di London nanti.
“Hush, kok malah senyum-senyum gitu? Jadi nggak apa-apa kan kalau kami tinggal sayang?” tegur mamah.
“Iya mah nggak apa-apa kok, kapan mamah sama papah berangkat?”.
“Besok”, jawab mamah singkat sambil beranjak dari meja makan menuju kamar bersama papah.
                “Besok?? Kok ngedadak banget mah? Memangnya udah persiapan dan lainnya?”
                “Tentu, tinggal berangkat kok, baju dan perlengkapan semua nya akan duluan dikirim malam ini. Sekarang kamu tidur, besok kamu nggak usah nganter ke bandara, kamu besok ada seleksi cheers kan?” ujar mamah sambil masuk ke kamarnya.
                Huh, mau pisah lama sama anaknya kok nyantai gitu kaya yang Cuma mau pisah sehari, batin Clara.

To be Continued...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar